Nur St Iskandar, ketika kecil bernama muhammad Nur. Setelah beristri ia diberi gelar Sutan Iskandar, sesuai dengan adat Minangkabau tempat asalnya. Ia lahir di Sungaibatang, Maninjau tanggal 3 November 1893 dan meninggal di Jakarta tanggal 28 november 1975 (dalam usia 82 thn).
Setelah mendapat didikan pada sekolah melayu, ia diangkat menjadi guru. Selama mengajar itulah ia belajar sendiri dari buku-buku, terutama tentang bahasa Melaju dan bahasa Belanda. Sering pula ia menulis untuk surat-surat kabar di padang. Kemudian ia pindah bekerja pada balai pustaka. Mula-mula sebagai korektor, kemudian berturut-turut diangkat menjadi redaktur dan redaktur kepala.
Tak kurang dari 82 judul buku diterbitkan atas namanya. Karyanya yang mula-mula diterbitkan berjudul "apadayaku karena aku perempuan" (1922). Kemudian terbit a.l. "cinta yang membawa maut" (BP 1926), "salah pilih" (BP 1928), "Hulubalang Raja" (BP 1934), "Neraka Dunia" (BP 1938), "Cobaan" (BP 1946), sekarang diganti judulnya jadi "Turun Ke Desa". Selain itu ia juga menulis buku bacaan untuk pelajar seperti "cerita tiga ekor kucing", "pengalaman masa kecil", "cinta tanah air", seperti menterjemahkan kraya Alexander Dumas: "tiga orang panglima perang", "dua puluh tahun kemudian", graaf de monte cristo:karya sinkiewiz, "iman dan pengasihan", dan terakhir karya Tagore:" cinta dan mata" yang terbit pada tahun 1977.

ini dikutip dari back cover buku Pengalaman Masa Kecil yang terakhir dicetak pada Tahun 1995, dicetak pertama kali oleh JB Wolters dan mengalami beberapa kali revisi. buku ini didedikasikan kepada para pendidik. bahasanya asyik..biografi yang unik. mulai dari belajar ngaji sampai menjadi pengajar.

"Jangan menyuruk dibalik lalang sehelai"

pertama kali membaca buku ini, umurku baru 9 tahun, kelas 4 SD, umur dimana saya makin tergila-gila pada buku, punya hobi menggeratak perpustakaan siapa saja, serta membongkari tas sekolah abang tertua saya untuk menemukan buku cerita yang dia pinjam dari sekolahnya. yang paling aku ingat dari buku ini sampai bertahun-tahun lamanya adalah ceritanya tentang orang Nias, pemilik kebun mempelam (mangga) yang ranum dan menerbitkan selera (hal : 56), sering gaya bahasa orang Nias itu saya praktekkan pada adik dan kakak, kadang-kadang untuk menggoda Bapak (syukurlah, orang tuaku juga baca buku ini)

buku ini, semata berisi cerita tentang kisah kenakalan si manun (panggilan penulis semasa kecil) alias Datuk Hitam (karena kulitnya hitam dan penghulu anak-anak nakal) tapi penyebab kenakalan itu lah yang kemudian menjadi inti dari buku ini. bagaimana peran orang dewasa dan lingkungan mempengaruhi tingkah laku anak-anak. dalam beberapa hal saya bersetuju dengan Manun, bahwa sering kali orang dewasa mendidik dengan kekerasan, melarang dan membentak yang akhirnya hanya membuat anak-anak menentang dan membalas dengan mengobar api peperangan. 

apa yang membuat saya begitu menyukai buku ini, hingga memberinya 5 bintang? isi ceritanya tentang pendidikan. bagaimana kelakuan guru yang tak pantas kala berhadapan dengan anak-anak, dan bagaimana pula seorang guru yang manis bahasa membuat hati terenyuh dan mengubah seorang anak nakal menjadi anak pintar. saya harus mengatakan dengan tegas, bahwa tutur kata yang manis bahasa, selalu menawan hati anak-anak, bahkan orang tua.

Manun belajar dari cara "orang tua nyinyir" menghadapi mereka yang bermain di halaman rumahnya yang bagai halaman raja dengan berteriak dan mengejar mereka dengan tongkat, melempari anak-anak dengan batu, menyumpah tentang kenakalan anak-anak itu. apa yang dilakukan Manun, ketika anak-anak nakal datang hendak mengambil buah-buahan di sekitar rumahnya? dia memanggil mereka, bukan menghardik dan mengejarnya tetapi memberi mereka buah yang sudah dipetik dengan cara yang manis dan lemah lembut.

Semua kenakalan masa kanak-kanak dan remajanya, kemudian dia jadikan pelajaran dan sabagai bahan untuk menaklukkan hati anak-anak yang kemudian jadi muridnya. dia menempatkan dirinya sebagai sahabat bagi murid-muridnya, sebagaimana dia dijadikan sahabat oleh seorang guru muda yang belakangan memberi pengaruh sangat besar bagi perubahan kelakuannya.

kritik-kritik terhadap perilaku orang dewasa, dan sistem pendidikan kolonial belanda sangat kental, meski tak secara terus terang dia pertentangkan. saya kutip dua paragraf yang sangat menarik perhatian, di halaman 129.

barang siapa menghardik anak-anak, niscaya akan dimaki anak-anak itu dari jauh. barangsiapa memukul akan dia, niscaya dilemparinya dengan batu. barangsiapa membuat olok-olok dengan anak-anak, niscaya akan diperolok-olokkan jua oleh mereka itu.
coba periksa, bagaimana anak-anak belajar kepada orang dewasa. belajar dengan pengalaman sendiri, bagaimana cara manusia berlaku sesama manusia. bagaimana guru akan memperbaiki mereka itu kalau mereka sudah besar di dalam sekolah dengan pelajaran semacam itu?

sikap terhadap anak-anak, harusnya sesuailah dengan masa hidup mereka, tak baik bila buah yang berwarna hijau di cat merah, karena bila tiba masanya akan keluar sendiri warna aslinya, tak perlu kita poles dan paksa agar menjadi seperti kemauan kita.

Untuk Mengenang Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2008
"segenap cinta untuk para guruku, yang tak sanggup kuingat satu persatu, aku tahu berulang kali kalian menyuruhku membaca buku, tapi heranku, tak satupun dari kalian mengikut nasihat para guru sendiri"

".... Bagi adinda tak ada jurang yang menceraikan kita berdua. Cinta yang suci seperti cinta kali ini, ialah pemberian Allah, dan sekalian perbuatan Allah tiada dapat dirusakkan oleh perbuatan manusia. Bukankah kebangsawanan itu perbuatan manusia belaka, manusia yang angkuh dan sombong..?"

Petikan surat dari Molek binti Sutan Mahmud kepada Yasin, kekasih si anak Ulu. mencoba mengatasi jurang keturunan, derajat dan kekayaan, diletakkan di halaman judul. pertama kali dicetak pada tahun 1932, dan buku yang kumiliki secara pribadi untuk pertama kalinya ini (sebelumnya boleh minjam dari perpustakaan di SMPN I Lhokseumawe) adalah cetakan ke-16 pada tahun 2007.

tebalnya hanya 156 halaman, tetapi keindahan tata bahasa dan gaya yang sangat khas dari pujangga angkatan lama ini (dia juga adalah salah satu pelopor lahirnya Pujangga Baru), sungguh tidak membuat kita ragu pada kemahirannya mengolah emosi pembaca. buku ini adalah buku keduanya setelah "Tak Putus Dirundung Malang" (Novel, 1929).

Cerita diawali dengan pertemuan pertama (kalau bersirobok pandang bisa dikatakan pertemuan) antara Yasin dan Molek, yang terjadi di Sungai Musi, saat Yasin sedang bersantai menunggu pagi di perahunya untuk menjual para yang dibawanya dari ladang, dan pada pagi itu pula ia menangkap bayangan tubuh Molek yang hendak turun mandi ke tepian. tepian inilah yang nanti menjadi tempat paling penting dalam kisah percintaan mereka berdua. percintaan yang sangat Indah dan memabukkan.

inilah ciri khas dari kisah-kisah romansa percintaan masa lalu yang masih terus menerus muncul di dalam sinteron Indonesia masa kini. Molek yang berasal dari kalangan atas Masyarakat Palembang, lengkap dengan cara pandang Orang tua yang Feodalistik dan Patriarkis. sedangkan Yasin, adalah anak kampung yang beda dengan sebayanya. meskipun berasal dari keturunan orang ternama diwilayahnya. tetapi bagi sang bangsawan, seorang uluan tetaplah tidak ada tempat dalam lingkungan mereka, bahkan untuk penyapu rumah sekalipun (begitu pendapat ibunya Molek).

Bertahun-tahun, sepasang sejoli itu hanya berkasih mesra lewat surat-surat yang diselipkan di tepian (tempat Molek mandi), sampai akhirnya tiba keberanian dari Yasin untuk melamar Moleknya tersayang. dan sudah bisa dipastikan, tentulah perbedaan derajat dan keturunan itu tak bisa dikalahkan. namun begitu, Yasin dengan setia menunggu kekasihnya. bahkan sampai Molek dinikahkan dengan seorang keturuan Arab (menurut ayahandanya, tentulah keturunan nabi) yang ternyata tak lain hanya memikirkan harta kekayaan sang mertua saja.

Upaya untuk menyatukan dua raga yang saling mengasihi pun bukan tak pernah dilakukan, tepat dihari pernikahan, Molek dan Yasin merencanakan untuk melarikan diri, tetapi entah apa sebab, kemudian Molek tak jadi melompat ke perahu Yasin yang sudah menanti dengan segala kerinduan, kengerian dan tentulah kasih sayang.

Derita cinta yang tak terwujudkan, membawa Molek pada penderitaan bathin yang seolah tiada akhir, meski akhirnya dia bertemu jua dengan Yasin, namun ternyata ada sesuatu yang tak bisa dipahami oleh Yasin dalam diri Molek. bagi Molek, cintanya hanya untuk Yasin, namun karena tubuhnya telah ternoda oleh manusia lain, maka dia memutuskan untuk menyelamatkan Ruhnya yang mencintai Yasin dunia akhirat, seperti yang dituliskannya pada setiap penghujung suratnya kepada Yasin. cara yang ditempuh memang tak diceritakan dalam roman ini, namun bisalah dipahami, apa kira-kira yang terjadi pada seorang manusia putus asa.

"satu kita di dunia, satu kita di akhirat, kita sebenarnya satu selama-lamanya!" 
wassalam adindamu,
Molek

Gaya bahasa yang sangat membuai dan menarik hati, sempat menguras beberapa tetes air mata. menandakan, betapa lihainya pengarang kelahiran Natal, Sumatra Utara, 11 Februari 1908 dan wafat di Jakarta pada 17 Juli 1994 ini memainkan kata dan emosi. 

He is one of my favorite authors in the world, especially from Indonesia. uhmm mungkin karena sesama melayu kah? hehehhe.. tidak juga... ini buku bagus kok buat yang pengen belajar gaya sastra melayu itu. tulisan dia ini yang selalu menjadi inspirasiku menulis puisi dan curhatan gaya melayu. buat yang suka novel roman, ini adalah buku bagus. buat yang suka thriller, kyanya... hehehe.. mendingan jangan deh, ngga ada thrillernya dikit pun!!

kata Rendra:
kumpulan puisi ini mencerminkan kehalusan budi. penindasana dan ketidak adilan yang terjadi di Aceh digambarkan dengan protes yang lahir dari kemurnian kalbu yang tanpa pamrih politik, Absurditas kekerasan ditonjolkan sebagai kebodohan manusia yang pongah dan fana.

kata Prof. Madya Dr. Siti Zainon Ismail;
Membaca bait puisi ini kita dibawa ke alur peristiwa realiti-realisme yang diangkat dari data sejarah yang tidak dapat disembunyikan. penyair Fikar W Eda dapat kita golongkan sebagai pencatat sejarah dengan ungkapan lirik yang bersahaja tetapi tetap membawa gelora jiwa sehingga kita dengan senang penuh terharu menikmati buah fikir putera Aceh sejati.

kata si liza cici:
kumpulan puisi yang dibagi menjadi 3 Episode, yaitu; 
I. Episode Rencong
II Episode Rajah
II Episode Tsunami
berisi puisi-puisi yang bisa bernyanyi, ditulis Bang Fikar sejak tahun 1985-2004. ketika kulihat buku ini terjepit diantara buku-buku tak terkenal, di salah satu sudut kedai Buku Do Karim, aku langsung teringat puisi "Nyeri Aceh"-nya yang nyaris setiap peringatan Tsunami, aku putar saat siaran. dan aku memang menemukan satu-satunya puisi dalam Episode Tsunami, berjudul Nyeri Aceh. gambaran tentang apa yang terjadi (meski kau tak disini bang) saat bencana yang merubah wajah negeri kami kemudian hari.

Puisinya yang berjudul "Seperti Belanda" dalam Episode Rencong, memang sedikit banyak membuat banyak orang akan menilai bahwa betapa chauvinism-nya kami, bagaimana kami memandang Jakarta (terutama Tentara-nya), tapi bukan kebencian yang ingin ditunjukkannya, melainkan sebuah perspektif yang mengingatkan kami pada masa perang Aceh-Belanda, yang memakan korban jutaan nyawa, menjauhkan seorang perempuan dari negerinya, dibuai-buainya negeri lada kami ini, lalu dihancurkan dengan berbagai cara. 

Puisi-puisi Fikar, Kuat, menggambarkan identitas sebuah bangsa yang turut berjasa mendirikan sebuah Negara, yang memegang teguh keyakinan beragama (meski belakangan kalah oleh politik komoditas jakarta, lagi), Rencong adalah perlawanan, rencong adalah ungkapan kebenaran dan kenyataan. 

untuk isi, aku sama sekali tidak ingin menggugat atau mencoreng puisi-puisi yang memang hak milik sejati sang penulis, meskipun interpretasi kita terhadapnya bisa bermacam-macam, aku pikir Bang Fikar pun tidak akan begitu marah kalau aku bilang ada puisinya yang terlalu telanjang... tapi asyik untuk diterjemahkan. yaitu yang judulnya ;
Akulah Inong (Wanita Aceh)
"hello, call me please, i wait here"
(kemana kuhadapkan wajah
matahari berubah resah
ini zaman telah berganti
di puncak sunyi aku sandarkan mimpi)

ditulis di Jakarta, pada tahun 1998
apa itu bang? reformasi? bukan cerita baru, kalau mereka lebih berani.
halaman buku ini, berwarna dasar hitam, ukiran khas Aceh..tapi sepertinya bukan pula ukiran "Pinto Aceh".. cukup unik, huruf-huruf berukuran besar (12-14) berwarna putih, cukup memanjakan mata. desain covernya , tak cukup eye catching, tapi unik.. meski berjudul Rencong, tapi tak ada gambar rencong disana karena nanti dikira orang, buku ini berisi sejarah rencong pulak. dominan warna gelap, membuat buku ini tak mudah menarik perhatian orang, meskipun artistik berselera dan gaya. sesuai kemampuan penerbitnya barangkali, Yaitu KaSUHA -Kampanye Seni Untuk Aceh-

harga murah kali untuk kategori buku puisi, tapi untuk isinya, tak rugi juga kita beli, senang hati membaca, muncul sesekali semangat melawan itu lagi, Rp. 15.000 saja harganya. mungkin tak banyak beredar dimana-mana, tapi kuyakin ada kalau jeli mata mencarinya.

kata fikar lewat puisinya berjudul bunga

kujalinkan kata jadi bunga
mekar di cakrawala
kukirim padamu sekuntum
tapi engkau entah dimana

demikianlah, kurangkai kata dalam review ini, mekar dari dalam hati, kukirim padamu sebaris dua, dimanapun engkau berada

Karena belum kubaca semua kisahnya, jadi kukutip saja kata pengantarnya untuk kita bersama, kisah ini berisi berbagai kisah tentang raja dan pangeran, menteri dan pembesar, manusia dan jin, penguasa dan rakyat jelata, manusia dan binatang, pencuri, pembunuh, pencoleng dan para penipu. Juga tentang para agamawan dan orang-orang terkemuka, para durjana dan orang-orang saleh, para penulis, pujangga, ulama, tabib, pedagang dan para perajin, muda sampai tua, dungu sampai pintar, mabuk kepayang sampai bermusuhan dengan berbagai macam rupa dan coraknya.
Kisah seribu satu malam ini berisi berbagai macam kisah tentang perempuan yang akan menyegarkan jiwa dan pikiran kita, dalam posisi mereka sebagai ratu, ibu, istri, saudara atau anak. Kita juga akan mendapatkan begitu banyak fabel, yang jika dikumpulkan dalam sebuah buku tersendiri, pasti akan dapat menjadi sumber pengetahuan yang luar biasa.

Pengarang kisah seribu satu malam?
Cerita, cerita dan hanya cerita. Dalam sebuah dunia dongeng yang dipenuhi keajaiban para penyihir. Dunia dongeng mempertujukkan beragam bentuk kegilaan dan konflik hingga mencapai puncaknya yang tertinggi. Dunia dongeng yang berisi kisah keseharian manusia, pelajaran dan pelipur lara. Kita tidak akan pernah tahu siapa sebenarnya pengarang yang pertama kali menuliskannya, sebagaimana kita tidak dapat menganggapnya sebagai karya sastra yang murni, tanpa dirasuki perubahan dan improvisasi, meskipun seluruh kisah yang termuat di dalam seribu satu malam memang tidak keluar dari alur cerita aslinya yang telah diwariskan generasi ke generasi.
Sebagian kritikus sastra cenderung mengatakan bahwa kisah ini tidak dikarang oleh satu orang pengarang saja. Sebagian dari mereka juga meyakini bahwa pada mulanya, kisah ini ditulis dalam bahasa persia. Muhammad ibn Ishaq menyatakan bahwa Abu Abdullah Muhammad bin Abdus al-Jihsyiari, penulis kitab al-wuzara’, adalah orang pertama yang merintis penyusunan sebuah buku berisi seribu kisah dan dongeng menjelang tidur yang bahannya dia ambil dari khasanah kesustraan Arab, Romawi, dan peradaban lainnya. Masing-masing bagian di dalam karyanya itu dibuat berdiri sendiri. Abu Abdullah juga mengundang para pendongeng, untuk kemudian ia kumpulkan kisah dan dongeng terbaik dari yang mereka tuturkan. Dan ia juga mengumpulkan banyak cerita dan dongeng dari literatur yang telah ada pada saat itu, sampai akhirnya dia berhasil mengumpulkan 480 bagian, di mana masing-masing bagian terdiri dari sekitar 50 halaman yang akan selesai dibaca dalam satu malam. Akan tetapi sayang, sebelum Abu Abdullah berhasil mengumpulkan seribu kisah, maut lebih dulu datang menjemputnya.

Kapan kisah seribu satu malam ditulis?
Terdapat dugaan kuat di kalangan para kritikus dan ahli sastra, bahwa kisah ini ditulis pada periode antara abad ketiga belas dan keempat belas masehi. Masih ada perbedaan pendapat diantara para kritikus mengenai kapan sebenarnya kisah ini mulai disebar luaskan. Ada beberapa sastrawan berpendapat, bahwa kisah ini ditulis pada periode yang sama dengan ditulisnya kalilah wa dimnah. Argumentasinya adalah struktur bahasa yang digunakan di dalam kedua karya sastra tersebut sama-sama menggunakan struktur bahasa non-sastra yang lebih dekat dengan struktur bahasa yang biasa digunakan masyarakat awam.

Gaya bahasa?
Tak dapat dibantah, gaya bahasa yang digunakan didalam kisah ini memang luar biasa indahnya. Gaya bahasanya jauh dari segala bentuk kerumitan yang dapat membuat pusing kepala. Bahasa yang digunakan juga amat sederhana dan merakyat, jauh dari gaya bahasa sastra yang sering “jauh panggang dari api”. Gaya bahasa dalam kisah ini sederhana dan mudah dimengerti, merasuk kedalam benak siapa saja untuk dinikmati, tanpa harus mencari tahu arti suatu kata dan susunan kalimat tertentu.
Demikian dituliskan pada bagian pengantar Hikayat 1001 Malam ini.

Yang ini isi hatiku tentang buku ini.
Alhamdulillah, akhirnya aku bisa punya kisah ini, meski harus merogoh kocek dalam-dalam, tapi tak akan membuatku menyesal. Hardcover, kertas yang bagus, tebal dan huruf yang standar. Tak banyak kata, Alhamdulillah, terima kasih untuk penerjemah, penyunting dan penerbit. Terima kasih untuk Arry yang berhasil menyulut nafsu membeli buku kisah ini. 

25 penyair asal Negeri jiran Malaysia menyumbang setidaknya 5-8 puisi seorang dalam buku yang diterbitkan Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pendidikan Malaysia pada tahun 1990.

buku lusuh ini kutemukan diantara himpitan buku-buku sastra melayu, di taman bukunya Bang Jose, Taman Ismail Marzuki. tidak banyak istimewanya, tapi cukup menyenangkan membaca puisi-puisi yang syarat dengan cerita tentang kehidupan orang biasa. kerinduan pada keluarga saat berada jauh dari pelukan mereka. masing-masing penyair punya ciri khas sendiri, sebut saja salah satunya Mansor Muhammad Saman yang dilahirkan di Langkawi pada tahun 1948. dalam puisinya yang berjudul "Ini Bukan Permintaan"
yang ditulisnya pada tahun 1975

Yang gugur dalam kesepian
dan berguling dalam masa
tiada sedih dan tiada
keinginan untuk hidup atau mati
betapa ranting-ranting dan keseluruhannya
jadi tempat berehat yang tenang.

dan beramai-ramai menunggu
tanpa gerun dan tanpa pengertian
serta bersih dari sebarang filsuf
bapakan kemarin dan besok
hari ini engkau telah dianugerahkan hidup.

kalaulah tiada kalau
satu-satunya di tempat mutlaknya
yang telah pun telahlah
dan aku menerima hadiah masamu

kitapun duduk mengira kesedaran
apakah perlu kita bertanya?

pemburuan yang sia-sia
tinggalkan daku di pinggir hutan
dan biar aku pulang seorang

indah?
tergantung bagaimana engkau merasainya
makna?
aku mengisapnya dalam-dalam
kesempatan hidup, kenikmatan menimba pengalaman
segala yang kita punya kemarin atau besok
tidak akan kita bawa kemana-mana
karena bila tiba saatnya, sendiri saja kita pulang
ke haribaan Penguasa Masa

membaca Lagu kehidupan, membuat kita menemukan, sisi pandang para penyair, dimana-mana sama, meski beda suku dan negaranya, tapi perenungannya tak jauh beda, gaya bahasa bukan sesuatu yang perlu diperdebatkan. mungkin karena masih sama serumpun bangsa, maka mudah juga mengerti maksudnya.

aahhh.. buku tua, entah pernah berada ditangan siapa, tak sia-sia aku memilikinya, khasanah bahasa dan gaya, bertambah setelah membaca.

Ini Buku sudah dibaca....
baru tadi sore diambil dari penggorengan (hahah emangnya gorengan?)
baru tanggal 22 Mei nanti diluncurkan (kya mobil ajah)
maksudnya, baru minggu depan disebarluaskan kepada Khalayak.
ini novel, ceritanya tentang Korban DOM (Daerah Operasi Militer) yang pernah berlaku di Aceh Nanggroe Darussalam pada tahun 1989-1998 (operasi jaring merahnya).

19 Mei 2008
buku ini sudah tuntas dibaca (meski belum juga dilepas ke pasaran) kemarin, ceritanya menarik, meskipun judulnya Black Angel alias Bidadari Hitam, tapi hampir 2/3 isinya tidaklah bercerita tentang Inong, si anak yang tak jelas ayahnya, karena Ti Timah, ibunya diperkosa tentara berulang-ulang dan menjadi budak seks salah satu pasukan yang bermarkas tak jauh dari kampungnya Paya Lhok, Pidie.

Inong dibesarkan oleh sebuah keluarga bekas pejuang di Lampoh Santan, Aceh Besar. Suami Mak Santan (yang bernama Asli Nyak Cut Zainab) mengambilnya, karena cucu bungsu dari anak tunggal mereka, Ahya Ulumuddin yang sejak kecil diasuh sang nenek, merengek minta adik perempuan. cerita tentang Ahya mendominasi separuh isi novel ini. latar belakang Inong yang tidak punya nama keluarga seperti lazimnya anak-anak lain, menempatkannya pada posisi yang sangat tidak menguntungkan. "anak jadah" begitu lah sematan pada dirinya, lahir dari seorang ibu yang menjadi korban kekejaman perang, menghantarnya masuk dalam lingkar kekerasan yang serupa.

Kulitnya yang hitam, halus, dengan paras cantik, ciri khas perempuan yang sangat Aceh. sebenarnya Inong cukup aman berada di Lampoh Santan, bersama mak Santan dan belakangan Ahya yang sudah menjadi pelaut, berniat menikahi adik masa kecil yang telah mengikat hatinya, lebih kuat daripada kekasih masa remaja yang menjadi bunga mimpi basahnya, Fitriah, anak Guru Najib yang bernasib malang. Fitriah dituduh sebagai mata-mata GAM, sehingga dia yang berkulit kuning langsat, mata nyaris biru "diselamatkan" dari keganasan perkosaan tentara-tentara lapar seks dengan menjadi istri seorang letnan dua (Anton). sebuah keputusan yang hanya menyelamatkan tubuhnya dari banyak orang, tetapi siksaan batin yang sampai pada batasnya tidak mampu lagi ditahankan. Fitriah pun melarikan diri pada saat markas suaminya yang terletak tak jauh dari kost-an mereka diserang pasukan GAM, dan dia memilih bergabung dengan pasukan AGAM.

Inong, yang kecewa karena keluarga Ahya menolak menerimanya sebagai menantu, melarikan diri ke kampung Nek Sada, ibu alm. Ti Timah. Namun ketika sampai di Paya Lhok, yang dia temukan hanyalah mayat sang nenek, kampung yang sepi, rumah-rumah yang diberi tanda silang merah. dia disergap tentara saat sedang meratapi kematian satu-satunya orang yang menjadi harapan bergantung, dia diperkosa sampai remuk, lalu dibawa ke pusat penyiksaan paling kejam di Aceh pada masa itu, Rumoh Geudong, Glumpang Tiga, Pidie.

Menjadi budak seks para tentara yang punya kebiasaan menyiksa, lengkap dengan luka tanda silang dikeningnya, sebagai penanda bahwa dia adalah musuh negara dan bila terjadi sesuatu, maka dia mudah dikenali. Inong akhirnya ditengarai menderita HIV/AIDS positif pasca ia keluar dari Rumoh Geudong yang dibakar pada tahun 1998 oleh massa yang marah, setelah pemerintah mencabut DOM, dan seorang jenderal yang kini memimpin sebuah partai politik yang bertanggung jawab atas pelanggaran HAM di Timor Leste meminta maaf. bagaimana seorang perempuan yang sudah mati masa depannya bisa memaafkan begitu saja? Inong menyimpan dendam membara, dia mencari mangsa, hendak membalaskan kepedihan dan kemalangannya. dia melayani tentara-tentara di kawasan Lhok Nga, Aceh Besar. sampai akhirnya gelombang raya memeluknya.

Novel ini, mungkin akan dibaca sebagai sebuah novel fiksi biasa, tapi sesungguhnya apa yang disajikan dalam novel ini, adalah kenyataan yang dialami oleh orang-orang Aceh pada serangkaian pemberlakuan Operasi Militer di Bumoe Seuramoe Mekkah ini. ada beberapa istilah dalam bahasa Aceh, tapi jangan kuatir, penulis menyertakan terjemahannya. Marah lah kalau menurut pembaca, gambaran terhadap sepak terjang kekejaman tentara digambarkan dengan jelas, nama-nama yang muncul mungkin mirip dengan saudara-saudara anda yang berprofesi sebagai tentara dan pernah bertugas di Aceh, beberapa tahun lalu. 

jujur saja, dadaku sesak saat membaca segala bentuk kekejaman yang terjadi, yang dialami Fitriah, Inong dan beberapa orang lain. pada masa perang di Aceh, mati karena siksaan, salah tangkap dan eksekusi tanpa pengadilan oleh "kelompok pelindung negara" itu bukanlah cerita baru. pertanyaannya adalah masih ada banyak inong, banyak fitriah, banyak Ahya, Nyak Mud, Abu Mahya lain yang sampai hari ini tak jelas nasibnya, meski perdamaian sudah mencium tanah kami, bagaimana dengan mereka?

Cover depan buku berwarna kuning gading ini, adalah foto seorang gadis bernama Cut Sheila, cantik bermata tajam... berwajah tegar (ternyata dia anak bungsu sang penulis buku). cover belakang, ada foto penulis bersama Pram. diterbitkan oleh Imparsial (The Indonesian Human Rights Monitor) dan AJMI (Aceh Judicial Monitoring Institute)

menurut pendapat beberapa orang yang sudah membacanya, ada yang bilang bahwa buku ini ngga memberi pencerahan kepada perempuan aceh, lhoo.... memang nih buku banyak kekurangannya kok, penempatan cerita, tokoh-tokoh yang kurang tepat, misalnya cukup mengganggu. padahal kalau karakter inong sebagai bidadari hitam diangkat.. tentulah akan sangat indah. tapi.. mana kita bisa mempengaruhi penulisnya??

masing-masing orang punya cara dan gaya sendiri untuk menterjemahkan isi pikir dan rasanya, yaahh samalah macam kita sesudah membaca, tentu ada banyak kata untuk memberi penilaian atau menunjukkan rasa selera. buatku, T.I Thamrin berhasil mengangkat berbagai kebenaran yang terjadi di Aceh, lewat rangkaian cerita yang dijalinnya, tapi judul dan isi... masih agak jauh panggang dari api. untung bisa kuselesaikan buku ini dalam sehari, kalau bukan karena penasaran pada kekerasan yang dialami para tokohnya, mungkin sudah sama nasib buku ini macam cerpen kawanku.... sekali aku kecewa, tak mau kubaca lagi. 

daya tarik buku ini, bukan inong.. tapi apa yang dialami oleh orang-orang aceh pada masa pemberlakuan daerah operas militer dengan operasi jaring merahnya yang terkenal, darurat militer dan darurat sipil di Aceh. satu dari kekayaan khasanah cerita di Aceh yang belum sepenuhnya dipahami orang-orang.

sukseslah buat pak TI, Imparsial dan AJMI(mantap kali.. bukunya gratis... hahaha)

Tokoh utama dalam Komik ini adalah Tachibana Tachibana, bocah bertubuh kecil tapi kuat... karena sejak kecil kerja keras melulu di kebun jeruk ayahnya.

dia masuk SMU Tsubakigaoka karena kebaikan kepala sekolahnya yang melihat kemampuan Tachibana sebagai orang yang akan membawa harum nama sekolah apabila memimpin kelompok Kendo.

Tachibana paling suka makan Jeruk dari Kebun Ayahnya, yang sangat ampuh untuk menambah kekuatan, menambah kegembiraan dan menimbulkan rasa cinta dan optimisme apabila memakannya.

Tachibana punya hubungan khusus dengan anak pak kepala sekolah, yaitu Kaoru. dia juga punya sahabat-sahabat yang kocak. bahkan dia punya sahabat dari kampung halamannya yang punya kekuatan luar biasa, tapi otaknya segede jagung, namanya Youheita.

Karena saking kangennya sama Tachibana, dia menyusul ke SMU Tsubakigaoka dan mereka berkelahi 5 hari 5 malam tanpa bosan, padahal pada saat yang sama, Tachibana harus berlatih untuk menghadapi sebuah kejuaraan Kendo yang paling bergengsi. komik ini terdiri dari 5 buku, dan gambar-gambarnya juga bagus. (ayahnya Tachibana paling cakep dalam buku ini, selain Yanagida).

Yanagida adalah sahabat sekaligus Rivalnya Tachibana, karena sebelum Tachibana masuk dalam grup kendo, dia adalah sang kapten, tapi kemudian jadi wakil kapten karena ada Tachibana (yang geblek minta ampun, ngga bisa make baju dan sabuk dengan benar) tapi herannya nih anak menang terus.... hehehhehe.

aku sudah baca komik ini tahun lalu, tapi bulan januari minjam lagi, karena memang suka membacanya, dan tertarik dengan falsafah yang disampaikan oleh ayah Tachibana yang Cakep itu.

kata bijaknya begini, untuk membesarkan jeruk terbaik di dunia, dibutuhkan 3 matahari, yaitu matahari Tanah, matahari langit dan matahari air. ketiga unsur itulah yang membuat jeruk berkembang dengan baik. lalu dijabarkan ke dalam bentuk lain. bahwa untuk menaklukkan dunia, seseorang memerlukan 3 matahari juga dalam hidupnya. matahari itu adalah:
1. Rekan
2. Keluarga
3. Rival

Rekan/sahabat membuat kita berani mengarungi berbagai situasi dan tantangan, karena mereka adalah orang-orang yang mengerti dan punya tujuan yang sama dengan kita.
Keluarga adalah sumber kasih sayang tiada tara, bahwa kemanapun dan apapun yang kita lakukan, tanpa cinta, maka hidup tidak akan pernah sempurna.
dan terakhir adalah Rival!
tanpa rival, kita tidak tahu bahwa kita sudah berbuat yang terbaik atau belum, karena rival selalu membuat kita bersemangat untuk melakukan hal yang baru, berkembang dan dinamis.

Tachibana yang hidup di jaman modern ini pun, masih tetap saja ada kelakuan anehnya, yaitu berkelana dengan jalan kaki hanya untuk menemukan arti kata Rival dan bagaimana penterjemahannya dalam kehidupan. Tachibana bingung, dia menganggap Yanagida adalah sahabatnya, sedangkan Yanagida selalu ingin mengalahkan Tachibana dalam kendo. ketika Tachibana di keluarkan dari SMU Tsubakigaoka oleh kepala sekolah yang baru, Yanagida juga ikut keluar dan masuk dalam SMU yang sama dengannya.

diakhir cerita, Tachibana memutuskan bahwa, Yanagida adalah Rival sejatinya, dia menyayangi Yanagida tapi tidak akan pernah mau mengalah padanya, mereka berdua terus bertarung dengan fair, untuk saling menguatkan. penterjemahan Rivalitas yang sangat indah.

Hadiah Ulang Tahun dari my co-workers berjudul Jenksplanetz.
buku yang aliran kata-katanya indah, menurutku indah karena sang penulis sangat pandai merangkai kata-kata dengan cara yang aku suka (hehehe.. ) 
ceritanya tentang seorang perempuan yang dibesarkan dalam lingkungan patriarki kental khas berlatar belakang pesantren.

nama perempuan itu Kejora, dia perempuan paling pintar di Pesantren khusus wanita itu, yang punya pemikiran kritis. dia menjawab pertanyaan sang guru penguji tentang apa yang menyebabkan shalat tidak sah dengan jawaban paling menarik yang tak pernah kupikirkan sebelumnya. "tidak punya imajinasi" hehehe... asyik kan? menurut dia, kalau tidak ada imajinasi tentang shalat, maka yang dikerjakan hanyalah ritual gerakan dan bacaan, tanpa tahu untuk apa dan kenapa.

yang membuatku begitu tertarik pada buku ini adalah cerita tentang Marocco, al maghribi (negeri impianku). ceritanya maju mundur dengan cara yang khas, mengusik daya ingat. dibuka dengan kisah perjalanan dan cerita tentang dahsyatnya rayuan maut seorang laki-laki yang dipersiapkan untuk jadi suaminya. perlawanan terhadap sifat "playboy" khas milik orang pintar dan terkenal. 

pemikiran yang menarik lainnya adalah dia menentang poligami, menurutnya kalau sang calon suami melakukan Poligami, maka dia akan membalas dengan poliandri (hebaaattt euyy), kenapa? karena menurutnya tidak ada yang boleh dilakukan laki-laki tidak boleh dilakukan oleh perempuan. jadi pesan-pesan terkait issue gender sangat cantik dituliskan.

sisi-sisi kehidupan dalam pesantren putri dan kedekatannya dengan alam, juga Sang Penguasa Alam, diceritakan dengan baik. kisah cinta yang unik, ketegasan seorang perempuan yang kuat dalam menghadapi godaan perzinahan dan menunjukkan eksistensi perempuan. habis kubaca dalam semalam, karena memang ini buku sudah diniat bacakan sejak pertama kali Jenk bikin ulasan.


uhmm... ceritain ngga ya?
malu sih sebenarnya, baru baca sekarang.. padahal udah sering dipegang dan didengar kedahsyatan cerita tentang si gadis di tepi jendela ini.
nih buku layak dapat bintang 4
kenapa?
karena ceritanya asyik, bikin air mata mengalir dan tawa bercampur baur.
pasti udah banyak yang baca kan? (kecuali Bli Dewa.. yang ternyata belum baca ..ahahhahhaha)

buku ini berisi cerita tentang pengalaman bersekolah di SD Tomoe, saat perang dunia ke-2 sedang berlangsung. apa yang menarik dari buku ini? metode pengajaran yang diberlakukan di SD Tomoe itu, aktifitas sekolah yang berbeda dengan sekolah-sekolah lainnya. ruang kelasnya yang merupakan gerbong kereta api yang sudah tidak terpakai lagi, lalu murid-murid yang boleh memilih mau belajar apa dulu.

tentang kelakukan si totto yang beda dengan anak-anak lain, bayangin aja dia sanggup bercerita selama 4 jam tanpa berhenti, sedangkan yang luar biasa itu adalah sang kepala sekolah, orang dewasa yang mau mendengarkan semua ceritanya selama 4 jam dengan baik. simpel sekali... mendengarkan!! sesuatu yang barangkali tidak pernah kita lakukan sekarang ini, mendengarkan anak-anak bercerita (tapi makasih yaa buat orang yang tahan dengerin ceritaku sampai ngga tidur, padahal matahari udah terbit.. hehehe)

bagian yang bikin geleng-geleng kepala adalah.. ketika dia menguras septic tank untuk mencari dompetnya yang jatuh di toilet, lalu pak kepala sekolah melihatnya berkeringat-keringat menangguk isi jamban itu, dan memintanya mengembalikan isinya seperti sediakala kalau sudah selesai, dan si totto bingung gimana ngembaliin air yang terserap tanah, lalu dia angkat saja tanah yang menyerap air itu masuk ke dalam septic tank.

belom lagi bagaimana aksinya ketika dia mengundang temannya yang kena polio ke pohonnya dan berusaha semaksimal mungkin mengangkat sang teman, mencarikan cara untuk bisa membuatnya bertengger di dahan pohonnya totto, dan mereka berhasil.. ketika sahabatnya ini meninggal, totto memang menangis sedih tapi dia bersikap seolah temannya itu akan dia temui lagi besok.

totto memang luar biasa aktifnya, setiap hari si ibu sampai pusing memikirkan karena saban pulang sekolah, bajunya sobek-sobek. kalo cuma baju mungkin si mama sudah mengerti, anaknya suka menyuruk-nyuruk ke pagar rumah orang, tapi kalau celana dalam bagaimana ceritanya bisa sobek-sobek juga?

hehehehe.. baca sendirilah.. gimana pandainya ini bocah mencari alasan dan menjelaskan apa saja kegiatannya dirumah dan hobinya itu. tentu saja jangan lewatkan bagaimana dia bergaul dengn anjing kesayangannya Rocky. atau pengalaman mandi kolam air panas bersama teman satu sekolahnya, serta upayanya menghibur tentara yang terluka akibat peperangan di rumah sakit. mengharukan... membuat kita tertawa... dan hmm.. tentu saja berpikir, bagaimana ya kalau ada sekolah seperti itu sekarang?

menu makan siang yang unik :sesuatu yang berasal dari gunung dan dari laut: acara memasak di alam terbuka, atau berenang telanjang. hari olahraga, pohon masing-masing untuk dipanjati dan diberi nama sesuai pemiliknya, ahh.. mana mungkin ada yang begitu itu disini, bahkan tidak juga di jepang pada hari ini. ketika semua tujuan pendidikan adalah nilai yang tinggi dan sertifikat. tanpa life skill, cuma ada academic skill.

sekolah yang umurnya tak panjang, karena keburu pecah perang dan kena bom. tapi ternyata sekolah ini memang ada dulunya, karena yang menuliskannya adalah pelaku alias si Totto Chan itu lah. mengingatkan pada Laskar Pelangi, atau sebaliknya yaa.. 

"perempuan selalu mengeluarkan apa saja dari mana saja. Hari ini pertama-tama kau mengeluarkan ikan dari dalam air, lalu mengeluarkan duri dari tanganku, lalu roti dari oven. Dan kini kau mengeluarkan anakku dari tubuhmu" Pak Komandan menatap punggung istrinya dan berkata lagi "Satu-satunya yang tidak kan pernah mampu kau keluarkan adalah kerinduanku padamu yang selalu ada di hatiku"

Daria menyeka keringat yang menetes dari pelipisnya. lalu berkata "ibuku bilang, laki-laki menghormati istrinya hanya selama mereka mampu melahirkan anak laki-laki bagi suaminya" 

"itu benar" kata Pak Komandan, "namun juga benar adanya, bahwa aku menginginkanmu. Bahkan sebelum aku datang dan memboyongmu dari rumah ayahmu. Bahkan sebelum seorang pun pernah berkisah padaku perihal dirimu, sebelum kubenamkan wajahku ke rambutmu yang hitam, sebelum kutahu aromamu," 

" kerinduanku padamu mulai hidup dan tumbuh di dalam diriku sejak pertama aku mendengar namamu: Daria, Sang lautan sungai."

percakapan sederhana dan indah antara dua orang tua Samira (Samir). Ayahnya disebut Pak Komandan yang mewarisi jabatan dan sebutan itu dari Ayahnya sebagai seorang pemimpin perang melawan Rusia, sekaligus memimpin suku di pegunungan Hindu Kush. Pak Komandan yang sangat kecewa karena anak yang diharapkannya lahir sebagai anak laki-laki itu, ternyata adalah seorang perempuan, yang hampir dibunuhnya namun sentuh lembut bayi berusia beberapa jam itu meluluhkan hatinya.

yaa..anak itu terlahir sebagai seorang perempuan, diberi nama Samira artinya Hati; kekayaan jiwa tapi juga berarti Rahasia. dan bersepakatlah kedua orang tua itu untuk menjadikan Samira seorang Putra-perempuan demi menyelamatkan nama dan posisi Pak Komanda beserta orang-orangnya yang disebut Kuchi atau orang Gunung.

Samira atau samir dibesarkan layaknya seorang anak laki-laki oleh Pak Komandan, diajarkan berkuda, berburu, menembak dan segala hal.. agar dia bisa menjadi anak lelaki sejati. pada suatu hari, putra-perempuan yang lebih kuat daripada anak laki-laki manapun di seluruh Hindu Kush itu mandi bersama teman-temannya di sungai. dan dia terkejut karena ternyata dia tidak memiliki tangan kecil diantara kedua kakinya. dia berlari pulang dan bertanya pada ibunya, dan sejak itu pula dia kehilangan suaranya. jadilah ia Samir si Bisu.

Samir yang lebih kuat dan lebih hebat dari siapapun yang tidak dikuatirkan lagi akan menjadi Pak Komanda berikutnya. kebisuan yang disimpannya pecah tatkala kuda jantan ayahnya membawa jenazahnya pulang dari medan pertempuran. dan pada hari ke 40 kematian ayahnya Samira tak sengaja membunuh orang yang memperkosa Daria yang kini tanpa pelindung itu, membuat mereka harus meninggalkan suku dan pergi mencari Ayah Daria.

Putra-perempuan itu benar-benar berhasil tampak sebagai anak laki-laki sejati, dia meludah seperti laki-laki, berkuda, menembak, ke pasar dan melakukan tawar menawar seperti laki-laki. bahkan menjadi anak laki-laki yang paling hebat diantara yang laki-laki sebenarnya, sehingga membuat iri Bashir anak Pak Komandan Rashid. Samir tidak kehilangan apapun. Mahfouz, kakek bertangan satunya selalu membuatnya bahagia, dimana rasa pelukan satu tangannya seperti dipeluk empat tangan.

Samir yang ingin menjadi Mujahiddin berperang melawan Suku Taliban, akhirnya ikut pada kata-kata Kakeknya bahwa dia bisa melihat dunia dengan sekolah. persahabatannya yang aneh dengan Bashir dan percintaan serta pernikahannya dengan Gol Sar, kakak perempuan Bashir mengalir dengan apik sampai akhir cerita.

cerita yang mengharukan.. perempuan yang memilih menjadi laki-laki karena kebebasan yang dia perolehnya. Azad..kesalahan identitas yang membuat hidupnya rumit. masalah asmara yang membuatnya bingung, mencintai dua kakak beradik sekaligus sebagai Samir dan Samira. 

kisah yang sangat luar biasa.. meskipun terkadang agak sedikit hiperbola, tapi begitulah imajinasi penulisnya. cerita berlatar belakang Afghanistan ini benar-benar menarik hati. kalau baca awalnya, mungkin agak malas .. hehehe seperti yang kurasakan sendiri..ini buku sudah dibeli sejak bulan maret, pertama kali dibaca pada akhir oktober dalam perjalanan ke Medan, baru beberapa BAB.. dan hari ini akhirnya selesai juga.

sedikit menguras air mata, terharu pada kisah cinta dan keindahan kata-katanya serta pergolakan rasa seorang perempuan yang menginginkan kebebasannya, ditengah sebuah masyarakat yang terbiasa berperang dan menempatkan perempuan dalam posisi terkungkung. apa yang menarik perhatianku dalam buku ini? kedewasaan seorang bocah perempuan yang ditempa ganasnya hidup dan ambisi sang Ayah. 

setiap kali ditanya apa yang akan dilakukannya, Samira mengikuti kata hatinya yaitu Melakukan yang Benar. dan ketika dia kembali mengenakan boots peninggalan ayahnya, menyelipkan belati, menyandang kalashnikov, dan berkuda dengan berayun seperti anak laki-laki pada saat dia sudah menikah dengan Bashir yang juga adik iparnya. 

kisah memilukan tentang cinta dan penindasan di Afghanistan. begitu kata bukunya. well.. percayalah.. penindasan yang dimaksud disini adalah penindasan terhadap perempuan, bukan rakyat Afghanistan seperti dalam kisah Kite Runnernya Khaled Hossein. Siba tidak banyak mengexpose nama-nama wilayah dan bentangan alamnya. dia hanya bercerita seputar kehidupan Samira/Samir. apa yang bisa kau petik dari buku ini?

kata-kata seperti " Jika seseorang menginginkan sesuatu, maka dia harus berlatih dan berlatih, sehingga akhirnya cita-cita itu tercapai" dan begitulah yang dilakukan Samira sehingga dia layak dikagumi sebagai seorang Samir.


Tentang Penulis
Siba Shakib lahir di Iran dan Dibesarkan di Teheran, mengenyam pendidikan sekolah Jerman. Selain sebagai penulis, ia juga pembuat film-film dokumenter, beberapa tahun terakhir dia sering melakukan perjalanan ke Afghanistan termasuk mengunjungi wilayah yang dikuasai oleh Taliban. ia juga duduk sebagai penasihat ISAS, sebuah badan pemelihara perdamaian di Afghanistan. bila tidak sedang berkeliling dunia, perempuan Iran ini tinggal di New York dan Jerman.
