Saya berada di suatu tempat yang asing.

Semula saya tak kenali tempat ini kecuali dari sengatan bau dan rasa tidak enak yang tiba-tiba menyapu mata. Belakangan, setelah berkeliling mengamati daerah tersebut, ketahuan kalau saya ada di suatu Kota yang disebut Barus. Dan bau itu tidak lain adalah bau dan rasa melekat di mata itu adalah kapur barus.

Hanya saja, saya tak tahu tahun kapan ini. Di tilik dari pakaian penduduknya yang beragam, ada dua macam cara berpakaian. Ada yang berpakaian lengkap dan ada yang minimalis banget. Mungkin di zaman lampau pikir saya, sambil memelototi lengak-lenggok seorang wanita berwajah India yang bagian atasnya nyaris tidak tertutup apapun.

Buah dadanya yang nampak penuh bagaikan batok kelapa yang terbelah dua, berayun-ayun gondal-gandul dengan lembut sebanding dengan lenggak-lenggok pinggulnya. Tentu saja, ayunan langkahnya menimbulkan efek bagai pendulum di wilayah seputar dadanya. Pastinya, mungkin ayunan sinusoidal yang harmonis mengikuti hukum gravitasi semesta. Seandainya wanita itu adalah alam semesta, saya yakin saat itu seluruh alam semesta sedang diguncang gempa 9,5 skala richer yang membuat semua penghuninya jumpalitan dan beterbangan bagai bulu-bulu unggas (saya sebut secara umum saja sebagai bulu unggas karena tak tahu apakah itu bulu burung atau bulu ayam) seperti di pembuka film Forest Gump.

Navigasi Halaman

Kedua buah terlarang perempuan itu hanya diselimuti oleh kain yang tipis dan samar. Disampirkannya kain itu diantara pundaknya yang bidang dengan ikatan yang agak kendor. Lemasnya kain tenun nampak bertumpukan jatuh di seputar dadanya, membangun lipatan-lipatan anggun penuh imajinasi. Tapi tetap saja, biarpun terlindungi dengan lipatan yang menggelombang, seringkali duaputing yang menonjol di dadanya itu bagai menjadi cantelan bagi kain penutup dada. Warna kain kuning muda tembus yang tembus pandang seperti tirai keramat yang menjadi misteri kehidupan. Sebenarnya, kain itu mungkin bukan tembus pandang, tapi kain selendangnya itu memang ditenun jarang-jarang, makanya mata yang melihat masih bisa menerawang, dan nampak tembus pandang samar-samar.

Saat itu, kombinasi yang indah antara makhluk ciptaan Tuhan dan citarasa manusia terhampar dimataku. Perempuam dengan kain tersampir itu. Imajinasi pun terbangun akibat dua tonjolan penuh misteri menggairahkan itu. Ini tentu membuat darah banyak lelaki bakal berdesir lebih cepat dari 13 meter per detik. Itu kecepatan maksimum aliran darah yang terukur di pembuluh darah kita. Lebih dari itu, ada kemungkinan akan membawa kematian. Kenaikan kecepatan itu, umumnya, bagi kebanyakan lelaki hanya merasakannya sebagai suatu lonjakan panas yang mengalir cepat. Mendesir di sekujur tubuhnya ke atas menuju ubun-ubun. Lantas dengan cepat meluncur deras ke bawah dengan keringat yang mulai meleleh jatuh. Ludah tertelan tanpa sadar. Lidah mulai melelet-lelet liar. Untuk kemudian semua rasa itu berkumpul di wilayah paling saru yang mereka miliki.

Lherrrrrr……perasaan saya tiba-tiba mengalir liar. Bebas lepas bagai air bah karena meningkatnya efek kenaikkan panas yang mendadak itu (BTW, ini perasaannya saja lho, bukan yang lainnya). Saya mencoba menepis rezeki tak disangka itu hanya sekali saja. Kata orang tua, pandangan pertama adalah rezeki, tapi pandangan selanjutnya sudah berbeda bentuk menjadi kuda liar yang berlari kencang, syahwat yang melonjak liar. Pandangan selanjutnya ini termasuk kategori nafsu yang pamali kalau terus dibiarkan tak terkendali karena bakal merepotkan banyak orang. Apalagi kalau lelaki itu sudah beranak-bini.

Tulisan ini sebenarnya dimaksudkan untuk membangun sebuah cerita bersambung eksperimen. Judulnya pun sebenarnya lebih dimaksud untuk menjadi titik tolak imajinasi. Meskipun menggunakan nama tokoh filsuf Yunani kuno Phytagoras, jangan harap bakal menemukan rumus Phytagoras . Yang akan ditemukan adalah rangkaian kata-kata. Baik kata kata berdasarkan fakta, kata-kata ngawur, maupun berbagai kata-kata lainnya. Ini memang novel saya yang paling sering saya bolak-balik dan ubrak-abrik hanya sekedar untuk bereksperimen dengan kata-kata.

Meskipun sudah tahun 2007-an di tulis, Phytagorean Dreams pertama kali dipublikasikan di komunitas kemudian.com . Namun, hanya sampai dua atau tiga seri. Habis itu mandeg dan ditulis di blog saya di wordpress (atmonadi.wordpress.com). Tapi versi disitu beda dengan versi di kemudian.com yang merupakan versi improvisasi dadakan. Versi Blogebook merupakan versi yang rencana mau dipublikasikan di k emudian.com tapi kemudian tidak sempat diteruskan karena gak sempat lagi.

Versi yang inipun sudah direvisi lagi. Jadi, kalau kebetulan pernah membaca naskah dengan judul yang sama di internet, harap maklum, isinya mungkin sudah berubah disana-sini.

Novel ini sebenarnya mengulas perjalan imajinasi dalam konteks historis. Cuma jangan harap Anda menemukan sejarah yang benar karena sejarah yang saya tulis ada;ah versi suka-suka saya saja dalam kontek membangun Imageneering. Namanya juga percobaan.

OK, mudah-mudahan sanggup membacanya sebagai Blogebook.

Saya mengalihkan pandangan. Kucoba lebih jauh melihat keramaian di kota berbau khas ini.

Selain wajah-wajah lokal, ada banyak orang yang nampak seperti dari India, Persia atau dari Kawasan Arab, Mesir Afrikano, Yunani dan China. Kebanyakan berwajah India dan Timur Tengah. Sekali-sekali melintas orang China dengan cepat memanggul gembolan dagangannya, menuju bandar.  Tempat itu juga terlihat ramai dengan aktifitas muat, bukan bongkar.

Kota Barus termasuk kota kecil. Tapi nampak sangat sibuk dan cantik dilihat dengan segala aktifitas manusia didalamnya. Sepintas, kota kecil yang kelak hilang dari ingatan banyak orang ini nampak mirip pedusunan modern. Tapi nuansanya benar-benar super-duper kuno sekaligus modern.

Beberapa orang bertampang sangar, tinggi besar dan berambut jagung nampak bergerombol menggiring sekelompok pesakitan. Mereka, yang digiring dengan rantai di leher dan kakinya, nampak kekurangan makan, kurus dan ceking, wajah menua dengan cepat, berjalan terseret paksa dengan tangan dan kaki terantai bersama. Ya, saudara mereka terantai bersama, menjadi satu gerombolan kecil yang jalannnya diiringi suara gemerincing rantai.

***

Mereka turun dari sebuah kapal besar. Onggokan kayu yang dibangun menjadi sarana tumpangan itu nampak dikejauhan. Mungkin sengaja berlabuh agak jauh dari pusat keramaian. Mereka yang terantai kulihat berasal berbagai ras. Tapi kebanyakan dari kulit kuning, sawo matang, coklat tua, sampai gelap. Wah, ini masih era perbudakan pikirku. Mereka diturunkan cepat-cepat dengan sesekali geletar cemeti membelah udara, berbaris banjar dengan rantai yang mengikat menuju ke luar kota. Ke pedalaman yang bergunung-gunung.

Mungkin budak-budak baru pikirku, soalnya diturunkan dari kapal besar berkepala naga yang aneh bersandar di kejauhan itu. Aku tahu kapal itu, konon menurut cerita beberapa orang tua, kapal seperti itu biasanya adalah kapal para hantu laut, para bajak laut, kaum yang melanggar segala aturan hukum, para perompak. Perompak yang berlayar dari satu laut ke laut lainnya. Meraompak dari satu kapal ke kapal lainnya. Mendarat dari satu pantai ke pantai lainnya, merampok, memperkosa, menculik, dan membumihanguskan segala yang ada.

***

Sambil jalan-jalan, saya mikir dan komat-kamit membaca mantra. Kebiasaan saya kalau membutuhkan info lebih jauh adalah memanggil sukma Mbah Wikiwiki. Aktivitas khusus ini disebut sebagai “nyambat sukma“.

Ia Mbah yang sakti dan banyak informasi. Penampilannya sedikit centil dengan bunga matahari di telinga kirinya.Tapi, ia sangat berpengetahuan, mirip ensiklopedia lah.

Jadi, untuk lebih tahu tentang Kota Barus ini saya memanggilnya. Tak berapa lama, sosok ghaib yang berpenampilan sederhana muncul dalam pikiran saya dan langsung menjelma menjadi bayangan tembuspandang di hadapan saya. Dialog imajinal pun terjadi. Mbah Wikiwiki menyodorkan papan hitam.

Prosedurnya sudah baku, aturan tidak tertulis bagi siapa pun yang membutuhkan jasanya. Bagi yang meminta informasinya maka harus dituliskan “kata” yang ingin diketahui. Saya kemudian mengambil kapur tulis yang juga diselipkan di pinggir papan kecil itu. Untuk mengambil kapur yang juga nampak bagai bayangan iu, saya mesti berkonsentrasi sambil komat-kamit membaca mantra tertentu. Akhirnya, setelah intens membaca mantra saya pun mampu menampilkan sosok bayangan saya. Jadi, bayangan dengan bayangan, barulah saya bisa merasakan saling hubungan langsung. Bayangan saya kemudian mengambil kapur. Lalu saya tulis “Barus”.

Tak ada suara diantara kami. Komunikasi dengan Mbah Wikiwiki yang bersahaja itu memang melalui prosedur tuilis-menulis. Sejenak kemudian, Mbah Wikiwiki kemudian memejamkan mata. Desiran halus dan lembut terdengar, di kejauhan kedap-kedip cahaya nampak. Tak lama kemudian suatu layar terkembang di hadapan saya dengan Mbah Wikiwiki. Larik demi larik tulisan kemudian muncul dari atas ke bawah. Saya pun cepat-cepat membacanya.

Menurut keterangan Mbah Wikiwiki,

“Barus adalah sebuah kota kecamatan kecil terletak di daerah Sumatera Utara, kabupaten Tapanuli Tengah… Barus terletak di pantai barat pulau Sumatera, sekitar 60 km disebelah utara kota Sibolga, berada di sebelah selatan Kecamatan Singkil, Aceh Selatan… Dulu Kota ini oleh pedagang Persia sering disebut juga Farus. Bahkan salah satu penyair mistik Melayu yang terkenal, yaitu Hamzah Fansuri, konon kabarnya lahir di kota ini.Belaiu sendiri diketahui makamnya ada di Mekkah.”


Mbah Wikiwiki melanjutkan,


“Untuk mencapai Barus, dapat menggunakan pesawat udara ke kota Medan, dari Medan dapat menggunakan minibus travel menuju Sibolga selama 7 jam, atau dari Medan menggunakan pesawat ke Sibolga selama 30 menit, dan dari Sibolga membutuhkan 2 jam perjalanan lagi menuju Barus.”

Saya kedipkan mata supaya Mbah Wikiwiki nggak terus ngerocos. “Informasinya sudah cukupan Mbah“,  kata saya berbisik halus.

Saya jentikkan ibu jari dan telunjuk saya dengan membisikkan mantra tertentu. Mantra penutup dialog dengan Mbah Wikiwiki yang sebenarnya hidup di masa saya, masa nanti. Tak lupa saya juga ucapkan pula terima kasih pada beliau yang tak berpamrih kecuali minta donasi sesuka kita.

Saya coba-coba mengingat beberapa perincian tentang kota ini dari sumber lain yang pernah saya dengar.

Di perkirakan kota ini telah aktif sejak sebelum abad 8-9 Masehi. Tapi bukan sebagai jalur perdagangan resmi. Barus lebih cocok disebut jalur “Backdoor” atau “pintu belakang” dimana hasil pertambangan Suwarnadwipa, terutama  kapur barus dan emas. Jadi nama kota Barus sesuai nama hasil bumi utamanya yaitu kapur barus. Jalur resmi perdagangan di masa itu adalah melalui selat Malaka dan Pantai Timur Suwarnadwipa alias Sumatera.

Para pendatang maupun sosok pribumi yang berperan di Kota Barus nampaknya adalah para pedagang. Paling dominan adalah pedagang berkulit sawo gelap dari India Selatan yaitu dari Srilanka, Benggala. Sebagian kecil nampaknya dari Timur Tengah, mungkin Persia pikirku. Dalam perkembangannya, pada abad selanjutnya yaitu sekitar abad 8 sampai 9 Masehi, terdapat juga pendatang dari Mediterania lainnya seperti dari Mesir, Pedagang Yahudi, Rum, dan Yunani. Kemudian di belakang hari baru pedagang dari China yang datang dari bagian barat Jawa.

Beberapa catatan sejarah terbaru juga menengarai di kota Barus ini pernah ada kelompok ruhaniwan Islam, Budha, Hindu dan Nasrani Nestorian. Jadi kota Barus yang sebenarnya kecil ini nampaknya pernah menjadi Melting Pot berbagai ras dengan keyakinannya masing-masing yang berjaya masa itu dengan aktivitas para saudagar (Saya sebut Melting Pot juga karena kelak di Barus ditemukan banyak pecahan tembikar antik seperti pot tempat bunga).

Ada yang menduga, Barus sebenarnya bukan kota baru. Mungkin sudah lama ada. Bahkan sejak awal tahun Masehi. Sebuah peta kuno yang dibuat oleh kartografer Aleksandria yaitu Claudius Ptolomeus,  yang tercatat pernah menjelajah wilayah Nesos pada abad ke-2 Masehi, telah menyebutkan bahwa di pesisir barat Sumatera terdapat sebuah bandar niaga bernama Barousai (Barus) yang dikenal menghasilkan wewangian dari kapur barus (Mungkin juga lho kata Barousai ini adalah akar kata dari Barongsai, tarian naga yang terkenal itu, siapa tahu).

Bahkan, dikisahkan pula pada beberapa riwayat kuno bahwa kapur barus yang diolah dari kayu kamfer dari kota itu telah dibawa ke Mesir. Konon kaya sahibul hikayat kuno,  kamfer dipergunakan untuk pembalseman mayat pada zaman kekuasaan Firaun sejak Ramses II. Jadi, sekitar 5. 000 tahun sebelum Masehi!

Wah, spekulasi ini jadi cocok juga dengan sejarah perjalanan Dzulkarnain alias Akhnaton dari Mesir Kuno. Ia konon menjelajahi tempat matahari terbenam di wilayah Andaman sampai di Kiribati sana di Lautan Teduh. Dipaksa cocok karena Dzulkarnain Si Dua Tanduk menurut kitab maksa yang berjudul “Yakjuj Makjuj dari Asia” yang baru terbit baru-baru ini juga ditengarai sebagai Akhnaton. Dia adalah Raja Mesir Kuno yang menyatukan semua agama Mesir menjadi Agama Monoteisme pada sekitar tahun 1650 SM.

Logika sederhananya, mustahil Akhnaton akan melewatkan negeri di wilayah Khatulistiwa. Di masa-masa perjalanan legendaris itu pastilah negeri di wilayah Khatulistiwa masih seperti Perawan Ting-ting yang semlehoi tubuhnya, buah dadanya menggayut kencang menantang bagai gadis yang saya lihat itu; bokongnya menonjol bak pantat kuali yang baru keluar dari bengkel ketok magic; dan wajahnya manis legit kaya gula aren angetan.

Setidaknya, karena Akhnaton ini Raja Mesir yang berkuasa dan kaya pasti ia pun mampir juga di wilayah ini baik untuk menambah bekal maupun mungkin bermukim beberapa waktu dan menambah keturunan beranak pinak.

Mungkin mampir ke Barus yang sudah dikenal Fir’aun sebelumnya, pikirku ngasal aja. Cuma mana buktinya?

Nah ini yang repot kecuali kita mau ngarang saja kalau si Akhnaton meninggalkan keturunannya untuk menguasai negeri Khatulistiwa yang dilewatinya ini dan membangun kerajaan hebat. Sebut saja  kerajaannya bernama Imperium Ayakata alias Shinde dan kelak disebut Sunda – Empire Of The Sun.

Kunci hubungannya ada di kata Mesir-Sunda. Tak percaya, coba sampeyan baca dari 3 huruf SUN dan 4 huruf ESIR. Baca mundur hasilnya SUN-RISE, matahari terbit. Nah, itulah kuncinya. Mesir dan Sunda berhubungan, persis seperti kisah babad Cirebon dimana Putri Sunda Rarasantang kawin sama Raja Bani Isarel dari Mesir yang kelak melahirkan Sunan Gunung Jati.

Lantas apa arti M. Nah, ni die M mungkin maksudnya Myriad, bahasa Yunani kuno yang artinya bekerja. Asal tahu saja, Mesir di zaman Akhnaton mungkin mencakup negeriyang kelak oleh sejarahwan abad 16-17 disebut Greek. Padahal tak ada yang namanya Greek alias Yunani yang ada Imperium Mesir. Trus DA pastinya adalah Anno, dibuat oleh atau satu kata yang dibaca dengan O ditengah menjadi Doa. Jadi, Mesir-Sunda artinya, ketika matahari terbit bekerjalah dengan giat, kemudian setelah selesai bekerja berdoalah. Maksud saya artinya tak lebih dan tak kurang sami mawon dengan Ora Et Labora.

Turunan Akhnaton ini lantas mengembangkan diri. Mereka menguasai pengetahuan Mesir, Babylonia, dan India. Kelak, ketika bapaknya tiba di China, ia mendirikan dinasti Zhou yang berkuasa di daratan luas itu selama hampir 800 tahun. Jadi, peradaban yang ada di wilayah Jawadi dan Sumatra yang dulunya bersatu sebagai pulau bengkok seperti Bumerang dengan sebutan Shinde atau Sunda, berfusi juga dengan peradaban China.

Kemungkinan ini boleh terjadi kalau kita bolak-balikkan fakta dan fiksi dalam buku Yakjuj Makjuj itu dimana di hipotesiskan Dzulkarnain mengadakan perjalanan dari Andaman ke Kiribati lantas membangun tembok China dan ia memakai nama yang mirip dengan kata Dzul yaitu Zhou.

Kelak Shinde atau Sunda pun menjadi negeri super duper-kuat dan menguasai wilayah Asia Tenggara sampai wilayah Funan atau Kambuja dan tentu saja sampai wilayah Ceylon atau Srilanka. Malaysia, tentu saja belom ada. Wong itu negara diadakan oleh Inggris dan begundal Melayunya kok sebagai pangkalan bajak laut Malaka. Jadi, masa aneh itu benar-benar masa dimana negara-negara masa kini batasannya tidak jelas, masih masif sebagai suatu wilayah kepulauan di Khatulistiwa. Dan barangkali negeri di Khatulistiwa dengan ibukota terletak di sambungan Jawa-Sumatera ini lahir negeri misterius dengan sebutan ATLAN alias ATLAS. Itu dongeng lampau menurut  Mbah Plat-O yang dihidupkan oleh His-Story ada pada tahun 400-an Sebelum Masehi.

Nama Plato yang mestinya Plat-O aslinya berasal dari pelat O seperti koin itu lho. Ini menurut teori ganjil saya. Pelat-O alis koin itu dipakai sebagai manik-manik hiasan orang Buni di Karawang-Bekasi. Mbah Plato alias Plat-O punya murid pandai mendongeng. Dari muridnya yang ahli mendongeng muncul julukan keren yaitu si Kura-Kura Tukang Cerita. Dalam Bahasa Inggris gaya lama,  julukan itu dapat ditulis dengan teknik bulak-balik kata seperti di SMS berhadiah itu menjadi “A Tortle Stories”. Julukan itu tidak lain adalah anagram dari nama filsuf murid utama Mbah Plat-O yaitu Mbah Aristotle yang jadi gurunya Alexander Dari Makedonia.

Anehnya, menurut dugaan ahli zaman lampau yang maksa juga, Si Alex inilah yang disebut Iskandar Dzulkarnain! Dugaan menurut kitab “Yakjuj Makjuj” bukan dia. Tapi si Akhanton Raja Mesir lah yang dimaksud Dzulkarnain. Dalam kerangka sejarah wuak-walik ing huruf, baik si Dzukarnain itu si Alex, maupun ia Akhanton, keduanya bisa sama-sama betul, tapi belum tentu benar.

Dugaan kalau Wilayah Asia Tenggara itu ATLAN lais ATLANTIS di masa modern diperkuat lagi oleh cerita seorang ahli nuklir yang pakar negeri Mitologi Atlantis dari negeri Brazilia yaitu Mbah Arios Santos (dongengnya bisa dibaca di situs atlan.org, itu kalau masih hidup situsnya) . Harap maklum, negeri Brazil terkenal dengan goyang bokong dan pinggulnya yang heboh. Jadi, Mbah Arios Santios pun berkisah tentang Atlantis dengan gaya penari Salsa yang lenggak lenggok dengan liar di jalanan Rio De Janairo, ibukota Brazilia.

Atlan dan Atlas adalah Shinde alias Sunda? Mungkin saja kalau kita ambil huruf ke 5 dari kedua kata itu ATLA – N dan ATLA – S yang dimaksud Mbah Plat-O tentunya negeri berinisial N dan S alias NESOS alias NuSantara yang menjadi Sangga Buana alias Atlas si Dewa Yunani yang menggendong Bumi alias Pakubuana hehehehe…..wulak walik nan cantik khan.

Weleh, othak athik gathuk saya cocok, cocok…. pikir saya sambil menyruput kopi  Kota Barus di pinggir jalan dan mengisap sejenis rokok yang banyak di jual di warung-warung pasar Barus yang ramai (Belakangan saya sadari rasa rokok ini kok aneh benar, mampu membuat pikiran melayang kemana-mana, dan saya lantas tahu kemudian di bisikin Mbah Wiki kalau rokok itu diramu dengan Soma, sejenis tananam halusinatif yang pernah dipakai oleh pendeta-pendeta India dulu dalam upacara keagamaan tertentu. Jadi mirip gele lah. Saya tak tahu apakah ini ada hubungannya dengan masa sekarang ini dimana Aceh sebagai sumber Gele dengan Barus di masa lalu).

Sampai abad 12, Kota Barus nampaknya tidak dipengaruhi oleh pemerintahan Sriwijaya maupun berhubungan dengan Cina secara langsung, kata kisikan satu sumber. Tetapi berhubungan justru dengan orang yang tinggal di Jawa (yang dimaksud bukan suku Jawa yang masih keturunan orang India selatan tapi siapapun yang menguasai tanah Jawa saat itu) sebagai perantara dengan China. Itu sekitar abad ke-8 sampai 11 Masehi. Melalui pedagang dari Jawa ini para pedagang China kemudian berhubungan, baik dalam jual beli emas maupun kapur barus. Anehnya orang China juga mendapatkan kapur barus dari orang-orang Khorasan melalui jalur darat, yaitu jalur yang kelak disebut jalur dagang Jalan Sutera. Padahal sumbernya adalah Kota Barus ini. Jadi orang China sampai abad 12 – an mungkin belum tahu ada Kota Barus di bagian pantai barat Sumatera.

Menurut seorang sumber lain dari The Matrix, dari kalangan Zedi yang bernama Peter Si Loncengkayu yang telah melakukan banyak penelitian arkeologis di Polynesia dan Asia Tenggara, penulis di Bacaan Arkeologi dari suatu padepokan yang disebut Nguniversitas Nasional Ngusterali, ditemukan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa sebelum abad kelima masehi, beberapa jalur perdagangan utama telah berkembang menghubungkan kepulauan Nusantara dengan Cina. Temuan beberapa tembikar Cina serta benda-benda perunggu dari zaman Dinasti Han dan zaman-zaman sesudahnya di selatan Sumatera dan di Jawa Timur membuktikan hal ini. Selain China jalur-jalur dagang itu pun nampaknya menghubungkan Nusantara dengan wilayah Campa, Kambuja, Vietnam, Thailand dan tentu saja Malaya.

Dalam catatan kaki tulisannya, Peter Si Loncengkayu menulis,

“Museum Nasional di Jay-Akar-Ta di negeri Ngindonesia memiliki beberapa bejana keramik dari beberapa situs di SumUt. Selain itu, banyak barang perunggu Cina, yang beberapa di antaranya mungkin bertarikh akhir masa Dinasti Zhou (sebelum 221 SM, Zhou = Dzulkarnain menurut buku Yakjuj Makjuj atau Yajou Majou alias manusia yang menunggangi kuda hawa nafsunya), berada dalam koleksi pribadi di Kota Loh-Ondon di negeri United Kondom. Benda-benda ini dilaporkan berasal dari kuburan di Lum-Ajang, Jawa Timur, yang sudah sering dijarah……(sorry transmisi terputus nech…).”

Masih menurut Peter Si Loncengkayu, perdagangan pada zaman itu di Nusantara dilakukan antar sesama pedagang, tanpa ikut campurnya kerajaan. Jika yang dimaksudkan kerajaan adalah pemerintahan dengan raja dan memiliki wilayah yang luas. Sebabnya,  kerajaan Budha Sriwijaya yang berpusat di selatan Sumatera baru didirikan pada tahun 607 Masehi. Jadi transaksi dagang tersebut bersifat terbatas antara satu pedagang dengan suatu kota atau pemukiman. Dengan kata lain, di wilayah yang sekarang disebut Ngindoensia itu dulu banyak negara-negara kota yang kecil tapi makmur yang dikuasai oleh Syahbandar-syahbandar atau Warlord-warlord yang mengambil keuntungan pribados dengan adanya perdagangan. Tentu saja saat itu tak ada yang namanya persatuan. Sampai zaman Persatuan inipun dampak ke-warlord-warlord-an itu masih melekat dan sering kelihatan pada masyarakat yang menghuni wilayah itu, terutama kalau masalah perut, yaitu dagang dan rezeki disinggung-singgung.

Lebih lanjut, menurut informasi terbaru dari kitab anyar yang berjudul “Barus 1000 Tahun Yang Lalu”, Kota Barus sampai masa suramnya di abad ke-12 karena bubar diserbu kelompok “Gargasi” (mungkin maksudnya serbuan dari negeri dari orang yang tubuhnya besar kaya raksasa), nampaknya tidak dikuasai oleh Sriwijaya padahal lokasinya termasuk dekat. Tapi bisa saja terjadi, “kerajaan-kerajaan kecil” yang tersebar di beberapa pesisir pantai sudah berdiri dan menjadi “negara-negara kota yang bebas”. Jadi perannya mirip Yerusalem, Kuwait, Pakistan, Bombay, Singapura, Brunei, atau  Hongkong di masa The Matrix nanti. Kota Barus dan kota-kota kecil yang ada di wilayah Nusantara mungkin dikuasai oleh para pedagang yang umumnya bukan penduduk asli wilayah tersebut. Meskipun ada dugaan demikian, tapi sejauh ini ini tidak dijumpai catatan His-Stories resminya kecuali setelah era kesultanan muncul catatan versi His-Story. Tentu saja para rajanya adalah yang dulunya menjadi warlord-warlord kota tersebut atau syahbandar yang menjadi kuncen kota tersebut.

Di Jawa, masa sebelum masehi juga tidak ada catatan tertulisnya. Tokoh yang sering disebut sebagai Aji Saka sendiri baru “diketahui” memulai sistem penulisan huruf Jawi kuno berdasarkan pada tipologi huruf Hindustan pada masa antara 0 sampai 100 Masehi. Tokoh yang satu inipun muncul dengan banyak legenda di Jawa dengan dugaan selama ini ia adalah seorang Pangeran dari India. Tentu saja karena masih legenda, ini pun susah dipastikan.

Sambil menerawang sampai jauh, saya punya spekulasi yang lebih seru mengenai tokoh legenda tanah Jawa ini. Aji Saka mungkin keturunan Isa Ibnu Maryam alias Yesus yang diselamatkan dari tiang salib Rumawi. Ia, menurut beberapa sumber dan desas-desus di The Matrix, tidak benar-benar mati di salib. Ia justru bisa diselamatkan setelah disiksa dengan hebat oleh kalangan Fatamorgana yang memang aslinya para ahli pengobatan dan psikologi. Kemudian, ia lari dari Kawasan Palestina dan kelak tinggal di daerah Kashmir. Itu lho daerah yang namanya dijadikan lagu oleh Led Zeppelin, Group Rock Legendaris dari United Kondom.

Trus, turunan Yesus ini kawin masin sama bangsawan Pallawa di India. Nah turunanya lagi punya anak yang kelak mencari kehidupan baru di wilayah Jawadi alias Sunda. Dan tentu saja kawin mawin lagi dengan turunan orang yang ada disitu yang mungkin masih berdarah Mesir turunan Akhnaton. Makanya jangan heran kalau orang Sunda punya kecondongan berbahasa dengan huruf  IEU atau EUIS atau GEULIS karena dulu Abah Sunda waktu pertama kali bertemu menyebut turunan Yesus asal Pallawa itu “IEU SA HA” alias “Ini Siapa?”. Seru khan hehehe…

Dalam periode yang sama, beberapa catatan sejarah menyimpulkan kalau di Kalimantan telah berdiri Kerajaan Hindu Kutai dan Kerajaan Langasuka di Kedah, Malaya. Bahkan kerajaan Holing atau Kalingga yang dulu diduga ada di Jawa di duga juga ada di Kalimantan ini. Kerajaan Kalingga atau Ho-ling menurut lidah tionghoa terkenal dengan kisah legenda Ratu Si-mo atau Sima nya yang sangat adil nan bijaksana.

Di masa yang hampir bersamaan,  di Jawa Barat ada kerajaan misterius Tarumanegara di Jawa Barat yang didirikan tahun 400-an Masehi. Bahkan menurut catatan Sejarah Wangsa Kerta dari Cirebon yang beberapa tahun lalu membuat heboh jagat persilatan ahli His-Story di negeri Ngindonesia, sebelum Tarumanegara ada negeri namanya Salaka Negara (Mungkin maksudnya Biji Salak Naga dan Ra) yang lokasinya di wilayah Jawa bagian Barat dan rajanya keturunan Bangsawan Palawa seperti saya singgung di atas.

Tapi memang semua itu baru dugaan semata. Soalnya catatan sejarah wilayah Ngindonesia ini sejauh dugaan para ahli benar-benar raib dan berpindah tempat di asramasegara-asramasegara (maksudnya perpustakaan-perpustakaan) negeri asing. Kitab-kitab yang ditulis di Sunda itu dulu diangkut dengan kapal laut ke berbagai penjuru negeri yang jauh. Beberapa diantaranya ke India, terus dari India mendaki gunung tinggi diangkut oleh Keledai, sebagian lagi dibawa ke Mediterania terus dilarikan ke Eropa oleh kelompok Suku Asu. Belakangan, di zaman The Matrix negeri diatas gunung tinggi itu diobok-obok tentara China.

Di Wilayah Nusantara, agama Budha baru menyebar pada tahun 425 Masehi dan mencapai kejayaan pada masa Kerajaan Sriwijaya di abad 7 sampai 11 M. Anehnya ciri pengaruh Sriwijaya tidak nampak di Barus pada abad ke 8 sampai 12 M. Kemudian di masa selanjutnya ada dinasti Syailendra, Sanjaya, Erlangga, jenggala dan  Kediri dan kemudian Majapahit dengan Mahapati Gajah Mada nya. Setelah abad 14 baru muncul kerajaan Demak yang bernuansa Islam untuk melindungi bandar-bandar China di Semarang.

Catatan-catatan penanggalan diatas, yang menulis tahun mulai dari 100 M sampai 1400-an Masehi nampaknya hanya merupakan taksiran sejarah versi His-Story saja. Sejauh ini, ada lubang besar dalam pencatatatan sejarah His-Story diantara abad 1 sampai 11 Masehi. Lubang besar itu adalah peristiwa Rakata 535 M yang menurut bukti-bukti modern berhubungan dengan peristiwa katastropis maha dahsyat yang mengubah wajah peradaban umat manusia di Planet Bumi.

Nah, lubang inilah yang mengherankan karena catatan peristiwa itu tercatat oleh dunia luar tapi anehnya tidak tercatat oleh sejarah raja-raja Jawa, Sumatra maupun wilayah Asia Tenggara lainnya. Sedikit catatan ditemukan di China dari dinasti Tang sekitar abad 6 M.

Apakah yang sebenarnya terjadi dalam periode itu di Asia Tenggara tak pernah dicatat oleh kerajaan-kerajaan yang katanya ada di Asia Tenggara seperti kerajaan Salaka Negara, Tarumanegara, Sriwijaya, dll (atau ada catatannya tapi tersimpan rapat di asrama segara yang tidak rahasia).

Kalaupun ada catatan historis, hanya sepintas dan samar-samar saja disingggung Mbah Ronggowarsito ratusan tahun kemudian dalam Pustaka Raja Purwa yang anehnya pula diungkapkan oleh penulis buku Krakatau dan pembuat film Catastrophic yang pernah disiarkan stasiun Tipi BaBuCi (singkapannya TV BBC) dari negeri United Kondom.

Atau bahkan cacatan itu menjelma menjadi dongeng dan legenda yang menyebar ke masyarakat. Sebagian di sakralkan dan melahirkan tradisi dan adat yang terus menerus disampaikan. Sebagian lagi hilang di telan jaman karena kisahnya terlalu melambung jauh ke awang-awang , jatuh di alam mimpi,  alam dongeng dan khayalan. Tapi, seperti  ungkapan modern yang diperkenalkan oleh ilmuwan astronomis terkemuka di zaman modern Stephen Hawking Lubang Hitam tidak sepenuhnya hitam. Ia masih mempunyai cahaya, meskipun mungkin hanya ditepi lubang hitam saja cahaya itu berada atau buram dan tak jelas seolah menjadi ruang waktu yang berada di antara ruang yang ada dan tidak ada.

Kota Barus barangkali salah satu kota yang terletak di tepi Lubang Hitam itu. Dari jejaknya yang ditemukan tahun 2000-an, seolah-olah kota itu pernah berjaya. Namun, dilupakan begitu saja  dan sisa-sisanya terbenam dalam lumpur kenangan yang memburam. Kota-kota lainya juga pernah ada seperti komplek pemukiman di Kawarang dimana terletak gugusan komplek Candi Jiwa yang , yang tertutup oleh lumpur menjadi unur dan gundukan tanah. Tersembunyi diantara hamparan sawah penduduk yang mungkin dulunya suatu rawa-rawa atau suatu pantai berawa yang menjadi salah satu kota tujuan di Jawa Barat. Jauh sebelum kota-kota dagang baru bermunculan di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dan semua itu hilang bagai masuk lubang hitam sejarah Nusantara.

Lantas, apa sebenarnya fungsi dari Kota Barus yang diduga telah ada di sekitar abad 5-6 M? Sejauh ini, menurut ahli sejarah masih dianggap sebagai Kota Kosmopolitan dengan dominasi Persia dan India Selatan sebagai penghuninya, yang umumnya adalah pedagang. Namun, melihat dari sumber alam yang diperdagangkan , dan lamanya jalur selatan Sumatera ini dikuasai oleh kelompok organisasi perdagangan India dan Persia, tidak tertutup kemungkinan kota ini merupakan kota yang dirahasiakan dan dieksploitasi oleh para pedagang tersebut dengan menggunakan budak-budak penduduk pribumi maupun asing. Khususnya pribumi pegunungan Sumatera untuk menggali hasil bumi maupun tambang emas dan perak rahasia di wilayah Bengkulu maupun Sumatera lainnya. Keterkenalan Sumatera sebagai negeri Emas sebenarnya sudah lama diketahui, dari inskripsi kuno nama Sumatera adalah Suvarnadwipa atau sering disebut Negeri Emas.

Emas dan kapur barus, juga nampaknya bukan barang aneh bagi penduduk pribumi Sumatera. Bahkan mungkin sudah dikenal sejak sebelum Masehi dan berhubungan dengan Mesir Kuno yang mengimpor Kapur Barus untuk mummi Firaun. Hubungan dagang Mesir Kuno dengan suatu negeri Misterius yang disebut PUNT yang diperkirakan berhubungan dengan suatu wilayah sekitar Asia Tengah sampai Tenggara yang ujungnya atau pojokannya adalah di Barus Sumatera. Bagi orang Mesir Kuno, negeri Punt sangat penting dan perjalanan menuju negeri misterius ini sangat dirahasiakan. Sampai hari ini pun para ahli purbakala belum dapat memastikan dimana tepatnya negeri Punt itu.

Bagaimana kota Barus sebelum 8 M , menjadi sangat menarik karena kemungkinan kalau Kota Barus baru tersebut atau Kota Farus menurut riwayat Arab di kemudian hari, sebenarnya kota yang dulu menjadi pelabuhan tambang milik negeri Punt. Penguasa Punt adalah penguasa Sumatera dan Jawa sebelum terpisahkan oleh peristiwa Letusan Rakata 535 M. Apakah kota ini dikuasai oleh negeri Kuno yang lenyap dalam peristiwa tahun 535 Masehi tersebut? Masih belum jelas benar meskipun bayang-bayang kaburnya mulai kelihatan.

Mengingat hubungan antara pedagang khususnya dari Asia dan Timur Tengah, nampaknya wilayah bagian selatan ini menjadi incaran pedagang dan organisasinya sejak dulu. Baik dari India Selatan, Persia, dan Mesir dimana mereka sudah pernah berhubungan sebelumnya. Boleh jadi, jalur ini adalah jalur yang baru diketahui secara lebih luar pada pasca Rakata 535 M yaitu sewaktu tim ekspedisi pedagang Persia dan India menjelajahi kawasan bencana yang melenyapkan sambungan Jawa-Sumatera dimana disitu dulu terdapat Gunung Api Purba atau Rakata atau Batuwara.

Boleh jadi dari pengungsi karena Letusan Rakata 535 M muncul beberapa suku kuno di Sumatera misalnya suku-suku Batak dan suku-suku yang tinggal di pegunungan Sumatera. Para pedagang dan penjelajah itu tahu ada ladang emas besar di pedalaman dari pengungsi Sunda. Para pengungsi yang kelaparan melakukan barter dengan sarana yang membuat para pedagang dan penjelajah itu ngiler yaitu “koin emas dengan simbol daun cendana” yang merupakan alat tukar resmi negeri yang hilang itu. Koin itu sendiri menurut saya malah mirip simbol dari Babylonia, simbol geometri suci akar dua. Walhasil, setelah beberapa waktu muncul hubungan yang lebih intim dengan para pendatang dengan barter dagang yang super duper menguntungkan ini dan umumnya para pedagang yang telah menjelajahi Kawasan Sumatera sejak dulu melalui perantara Negeri Kuno Yang Lenyap itu.

Para pedagang petualang ini nampaknya bekerja di luar campur tangan pemerintah negara masing-masing. Secara teoritis ini dimungkinkan karena tujuan mereka semata-mata hanya keuntungan belaka dan tidak ada kepentingannya dengan jatuh bangunnya penguasa (Maksudnya mau penguasa itu jatuh ataupun bangun bagi mereka EGP aja, The Show Must Go On kata Pink Floyd dalam album The Wall). Bahkan boleh jadi mereka pun justru cenderung melakukan intimidasi, penghasutan atau adu domba dalam suatu negara untuk memperoleh keuntungan yang banyak, baik ketika negara itu bangun maupun bangkrut, ataupun celaka karena bencana alam. Pendirian Sriwijaya dan Negara di Jawa sekitar abad 9 sampai 13 pun di tengarai berkaitan dengan hal ini, yaitu sebagai “negara-negara ilusi” untuk mengelabui motif sebenarnya dimana emas , perak, kapur barus, dan mungkin sumber alam dan barang berharga lainnya yang mudah dibawa dicuri dari belakang (jadi mirip hacker di zaman The Matrix nanti). Sementara, yang menjadi raja-raja di Sumatera dan Jawa sibuk berperang diantara mereka sendiri. Ini memang skenario terburuk yang pas benar.

Siapakah kelompok pedagang yang menguasai Barus akan menguak tabir penjajahan dan eksploitasi wilayah Indonesia sebagai wilayah penjarahan sumber alam sejak pasca Rakata 535 M yang menghancurkan dominasi kekuatan di wilayah tersebut yaitu Sunda atau Shinde sebagai Empire Of The Sun di wilayah Khatulistiwa sebelum Letusan Rakata 535 M. Dan keberadaan Barus sebelum 8 Masehi nampaknya berhubungan dengan satu Kota lain yang ada di Jawa Barat yang jejaknya tersembunyi atau dengan sengaja disembunyikan selama berabad-abad yaitu Komplek Candi Jiwa di Candrabagha, daerah Karawang dan Bekasi hari ini.

Saya masih terus berlari tanpa menoleh kebelakang lagi. Masa lalau biarlah berlalu, pikir saya sambil terus berlari.

Entah berapa lama, yang jelas ketika keluar hutan hari sudah menjelang sore. Saya tak mengaso. Langsung berlari terus menuju kota Barus kembali. Suara pengejar saya sudah tertinggal dan tak terdengar. Tapi saya terus saja berlari melewati batas kota, lalu masuk ke kota menuju pelabuhan.
